Blogroll

Naruto and Friends Pictures, Images and Photos

Kamis, 19 April 2012

Akankah Amal Kita Diterima ?



Beramal shalih memang penting karena merupakan konsekuensi dari keimanan
seseorang. Namun yang tak kalah penting adalah mengetahui persyaratan agar
amal tersebut diterima di sisi Allah. Jangan sampai ibadah yang kita
lakukan justru membuat Allah murka karena tidak memenuhi syarat yang Allah
dan Rasul-Nya tetapkan.

Dalam mengarungi lautan hidup ini, banyak duri dan kerikil yang harus kita
singkirkan satu demi satu. Demikianlah sunnatullah yang berlaku pada hidup
setiap orang. Di antara manusia ada yang berhasil menyingkirkan duri dan
kerikil itu sehingga selamat di dunia dan di akhirat. Namun banyak yang
tidak mampu menyingkirkannya sehingga harus terkapar dalam kubang
kegagalan di dunia dan akhirat.
Kerikil dan duri-duri hidup memang telalu banyak. Maka, untuk
menyingkirkannya membutuhkan waktu yang sangat panjang dan pengorbanan
yang tidak sedikit. Kita takut kalau seandainya kegagalan hidup itu
berakhir dengan murka dan neraka Allah Subhanahuwata'ala. Akankah kita
bisa menyelamatkan diri lagi, sementara kesempatan sudah tidak ada? Dan
akankah ada yang merasa kasihan kepada kita padahal setiap orang bernasib
sama?
Sebelum semua itu terjadi, kini kesempatan bagi kita untuk menjawabnya dan
berusaha menyingkirkan duri dan kerikil hidup tersebut. Tidak ada cara
yang terbaik kecuali harus kembali kepada agama kita dan menempuh
bimbingan Allah Subhanahuwata'ala dan Rasul-Nya. Allah Subhanahuwata'ala
telah menjelaskan di dalam Al Qur’an bahwa satu-satunya jalan itu adalah
dengan beriman dan beramal kebajikan. Allah berfirman:
“Demi masa. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-
orang yang beriman dan beramal shaleh, dan orang-orang yang saling
menasehati dalam kebaikan dan saling menasehati dalam kesabaran.”
(Al ’Ashr: 1-3)
Sumpah Allah Subhanahuwata'ala dengan masa menunjukkan bahwa waktu bagi
manusia sangat berharga. Dengan waktu seseorang bisa memupuk iman dan
memperkaya diri dengan amal shaleh. Dan dengan waktu pula seseorang bisa
terjerumus dalam perkara-perkara yang di murkai Allah Subhanahuwata'ala.
Empat perkara yang disebutkan oleh Allah Subhanahuwata'ala di dalam ayat
ini merupakan tanda kebahagiaan, kemenangan, dan keberhasilan seseorang di
dunia dan di akhirat.
Keempat perkara inilah yang harus dimiliki dan diketahui oleh setiap orang
ketika harus bertarung dengan kuatnya badai kehidupan. Sebagaimana
disebutkan Syaikh Muhammad Abdul Wahab dalam kitabnya Al Ushulu Ats
Tsalasah dan Ibnu Qoyyim dalam Zadul Ma’ad (3/10), keempat perkara
tersebut merupakan kiat untuk menyelamatkan diri dari hawa nafsu dan
melawannya ketika kita dipaksa terjerumus ke dalam kesesatan.
Iman Adalah Ucapan dan Perbuatan
Mengucapkan “Saya beriman”, memang sangat mudah dan ringan di mulut. Akan
tetapi bukan hanya sekedar itu kemudian orang telah sempurna imannya.
Ketika memproklamirkan dirinya beriman, maka seseorang memiliki
konsekuensi yang harus dijalankan dan ujian yang harus diterima, yaitu
kesiapan untuk melaksanakan segala apa yang diperintahkan Allah dan Rasul-
Nya baik berat atau ringan, disukai atau tidak disukai.
Konsekuensi iman ini pun banyak macamnya. Kesiapan menundukkan hawa nafsu
dan mengekangnya untuk selalu berada di atas ridha Allah termasuk
konsekuensi iman. Mengutamakan apa yang ada di sisi Allah dan
menyingkirkan segala sesuatu yang akan menghalangi kita dari jalan Allah
juga konsekuensi iman. Demikian juga dengan memperbudak diri di hadapan
Allah dengan segala unsur pengagungan dan kecintaan.
Mengamalkan seluruh sy`riat Allah juga merupakan konsekuensi iman.
Menerima apa yang diberitakan oleh Allah dan Rasulullah
Sholallohualaihiwasallam tentang perkara-perkara gaib dan apa yang akan
terjadi di umat beliau merupakan konsekuensi iman. Meninggalkan segala apa
yang dilarang Allah dan Rasulullah Sholallohualaihiwasallam juga merupakan
konsekuensi iman. Memuliakan orang-orang yang melaksanakan syari’at Allah,
mencintai dan membela mereka, merupakan konsekuensi iman. Dan kesiapan
untuk menerima segala ujian dan cobaan dalam mewujudkan keimanan tersebut
merupakan konsekuensi dari iman itu sendiri.
Allah berfirman di dalam Al Qur’an:
“Alif lam mim. Apakah manusia itu menyangka bahwa mereka dibiarkan untuk
mengatakan kami telah beriman lalu mereka tidak diuji. Dan sungguh kami
telah menguji orang-orang sebelum mereka agar Kami benar-benar mengetahui
siapakah di antara mereka yang benar-benar beriman dan agar Kami
mengetahui siapakah di antara mereka yang berdusta.” (Al Ankabut: 1-3)
Imam As Sa’dy dalam tafsir ayat ini mengatakan: ”Allah telah memberitakan
di dalam ayat ini tentang kesempurnaan hikmah-Nya. Termasuk dari hikmah-
Nya bahwa setiap orang yang mengatakan “aku beriman” dan mengaku pada
dirinya keimanan, tidak dibiarkan berada dalam satu keadaan saja, selamat
dari segala bentuk fitnah dan ujian dan tidak ada yang akan mengganggu
keimanannya. Karena kalau seandainya perkara keimanan itu demikian (tidak
ada ujian dan gangguan dalam keimanannya), niscaya tidak bisa dibedakan
mana yang benar-benar beriman dan siapa yang berpura-pura, serta tidak
akan bisa dibedakan antara yang benar dan yang salah.”
Rasulullah Sholallohualaihiwasallam bersabda:
“Orang yang paling keras cobaannya adalah para nabi kemudian setelah
mereka kemudian setelah mereka” (HR. Imam Tirmidzi dari sahabat Abu Sa’id
Al Khudri dan Sa’ad bin Abi Waqqas Radhiyallahu ‘Anhuma dishahihkan oleh
Syaikh Al Albani rahimahullah dalam Shahihul Jami’ no.992 dan 993)
Ringkasnya, iman adalah ucapan dan perbuatan. Yaitu, mengucapkan dengan
lisan serta beramal dengan hati dan anggota badan. Dan memiliki
konsekuensi yang harus diwujudkan dalam kehidupan, yaitu amal.
Amal
Amal merupakan konsekuensi iman dan memiliki nilai yang sangat positif
dalam menghadapi tantangan hidup dan segala fitnah yang ada di dalamnya.
Terlebih jika seseorang menginginkan kebahagiaan hidup yang hakiki. Allah
Subhanahuwata'ala telah menjelaskan hal yang demikian itu di dalam Al
Qur’an:
“Bersegeralah kalian menuju pengampunan Rabb kalian dan kepada surga yang
seluas langit dan bumi yang telah dijanjikan bagi orang-orang yang
bertakwa kepada Allah.” (Ali Imran:133)
Imam As Sa’dy mengatakan dalam tafsirnya halaman 115: “Kemudian Allah
Subhanahuwata'ala memerintahkan untuk bersegera menuju ampunan-Nya dan
menuju surga seluas langit dan bumi. Lalu bagaimana dengan panjangnya yang
telah dijanjikan oleh Allah Subhanahuwata'ala kepada orang-orang yang
bertakwa, merekalah yang pantas menjadi penduduknya dan amalan ketakwaan
itu akan menyampaikan kepada surga.”
Jelas melalui ayat ini, Allah Subhanahuwata'ala menyeru hamba-hamba-Nya
untuk bersegera menuju amal kebajikan dan mendapatkan kedekatan di sisi
Allah, serta bersegera pula berusaha untuk mendapatkan surga-Nya. Lihat
Bahjatun Nadzirin 1/169
Allah berfirman:
“Berlomba-lombalah kalian dalam kebajikan” (Al Baqarah: 148)
Dalam tafsirnya halaman 55, Imam As Sa’dy mengatakan: “Perintah berlomba-
lomba dalam kebajikan merupakan perintah tambahan dalam melaksanakan
kebajikan, karena berlomba-lomba mencakup mengerjakan perintah tersebut
dengan sesempurna mungkin dan melaksanakannya dalam segala keadaan dan
bersegera kepadanya. Barang siapa yang berlomba-lomba dalam kebaikan di
dunia, maka dia akan menjadi orang pertama yang masuk ke dalam surga kelak
pada hari kiamat dan merekalah orang yang paling tinggi kedudukannya.”
Dalam ayat ini, Allah dengan jelas memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk
segera dan berlomba-lomba dalam amal shalih. Rasulullah
Sholallohualaihiwasallam bersabda:
“Bersegeralah kalian menuju amal shaleh karena akan terjadi fitnah-fitnah
seperti potongan gelapnya malam, di mana seorang mukmin bila berada di
waktu pagi dalam keadaan beriman maka di sore harinya menjadi kafir dan
jika di sore hari dia beriman maka di pagi harinya dia menjadi kafir dan
dia melelang agamanya dengan harta benda dunia.” (Shahih, HR Muslim no.117
dan Tirmidzi)
Dalam hadits ini terdapat banyak pelajaran, di antaranya kewajiban
berpegang dengan agama Allah dan bersegera untuk beramal shaleh sebelum
datang hal-hal yang akan menghalangi darinya. Fitnah di akhir jaman akan
datang silih berganti dan ketika berakhir dari satu fitnah muncul lagi
fitnah yang lain. Lihat Bahjatun Nadzirin 1/170
Karena kedudukan amal dalam kehidupan begitu besar dan mulia, maka Allah
Subhanahuwata'ala memerintahkan kita untuk meminta segala apa yang kita
butuhkan dengan amal shaleh. Allah berfirman di dalam Al Quran:
“Hai orang-orang yang beriman, mintalah tolong (kepada Allah) dengan penuh
kesabaran dan shalat. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang
bersabar.” (Al Baqarah:153)
Lalu, kalau kita telah beramal dengan penuh keuletan dan kesabaran apakah
amal kita pasti diterima?
Syarat Diterima Amal
Amal yang akan diterima oleh Allah Subhanahuwata'ala memiliki persyaratan-
persyaratan yang harus dipenuhi. Hal ini telah disebutkan Allah
Subhanahuwata'ala sendiri di dalam kitab-Nya dan Rasulullah
Sholallohualaihiwasallam di dalam haditsnya. Syarat amal itu adalah
sebagai berikut:
Pertama, amal harus dilaksanakan dengan keikhlasan semata-mata mencari
ridha Allah Subhanahuwata'ala.
Allah Subhanahuwata'ala berfirman;
Dan tidaklah mereka diperintahkan melainkan agar menyembah Allah dengan
mengikhlaskan baginya agama yang lurus”. (Al Bayyinah: 5)
Rasulullah Sholallohualaihiwasallam bersabda:
“Sesungguhnya amal-amal tergantung pada niat dan setiap orang akan
mendapatkan sesuatu sesuai dengan niatnya.” (Shahih, HR Bukhari-Muslim)
Kedua dalil ini sangat jelas menunjukkan bahwa dasar dan syarat pertama
diterimanya amal adalah ikhlas, yaitu semata-mata mencari wajah Allah
Subhanahuwata'ala. Amal tanpa disertai dengan keikhlasan maka amal
tersebut tidak akan diterima oleh Allah Subhanahuwata'ala.
Kedua, amal tersebut sesuai dengan sunnah (petunjuk) Rasulullah
Sholallohualaihiwasallam. Beliau bersabda:
“Dan barang siapa yang melakukan satu amalan yang tidak ada perintahnya
dari kami maka amalan tersebut tertolak.” (Shahih, HR Muslim dari ‘Aisyah
radhiallahu ‘anha)
Dari dalil-dalil di atas para ulama sepakat bahwa syarat amal yang akan
diterima oleh Allah Subhanahuwata'ala adalah ikhlas dan sesuai dengan
bimbingan Rasulullah Sholallohualaihiwasallam. Jika salah satu dari kedua
syarat tersebut tidak ada, maka amalan itu tidak akan diterima oleh Allah
Subhanahuwata'ala. Dari sini sangat jelas kesalahan orang-orang yang
mengatakan “ Yang penting kan niatnya.” Yang benar, harus ada kesesuaian
amal tersebut dengan ajaran Rasulullah Sholallohualaihiwasallam. Jika
istilah “yang penting niat” itu benar niscaya kita akan membenarkan segala
perbuatan maksiat kepada Allah Subhanahuwata'ala dengan dalil yang penting
niatnya. Kita akan mengatakan para pencuri, penzina, pemabuk, pemakan
riba’, pemakan harta anak yatim, perampok, penjudi, penipu, pelaku bid’ah
(perkara-perkara yang diadakan dalam agama yang tidak ada contohnya dari
Rasululah r ) dan bahkan kesyirikan tidak bisa kita salahkan, karena kita
tidak mengetahui bagaimana niatnya. Demikian juga dengan seseorang yang
mencuri dengan niat memberikan nafkah kepada anak dan isterinya.
Apakah seseorang melakukan bid’ah dengan niat beribadah kepada Allah
Subhanahuwata'ala adalah benar? Apakah orang yang meminta kepada makam
wali dengan niat memuliakan wali itu adalah benar? Tentu jawabannya adalah
tidak.
Dari pembahasan di atas sangat jelas kedudukan dua syarat tersebut dalam
sebuah amalan dan sebagai penentu diterimanya. Oleh karena itu, sebelum
melangkah untuk beramal hendaklah bertanya pada diri kita: Untuk siapa
saya beramal? Dan bagaimana caranya? Maka jawabannya adalah dengan kedua
syarat di atas.
Masalah berikutnya, juga bukan sekedar memperbanyak amal, akan tetapi
benar atau tidaknya amalan tersebut. Allah Subhanahuwata'ala berfirman:
“Dia Allah yang telah menciptakan mati dan hidup untuk menguji kalian
siapakah yang paling bagus amalannya.” (Al Mulk: 2)
Muhammad bin ‘Ajlan berkata: “Allah Subhanahuwata'ala tidak mengatakan
yang paling banyak amalnya.” Lihat Tafsir Ibnu Katsir 4/396
Allah Subhanahuwata'ala mengatakan yang paling baik amalnya dan tidak
mengatakan yang paling banyak amalnya, yaitu amal yang dilaksanakan dengan
ikhlas dan sesuai dengan ajaran Rasulullah Sholallohualaihiwasallam,
sebagaimana yang telah diucapkan oleh Imam Hasan Bashri.
Kedua syarat di atas merupakan makna dari kalimat Laa ilaaha illallah -
Muhammadarrasulullah.
Wallahu a’lam. 
Dari Abu Hurairoh ra. Katanya : Kudengar Rasulullah saw berkata : sesuatu
yang aku larang memperbuatnya maka jauhilah dan sesuatu yang aku suruh
memperbuatnya maka kerjakanlah sekedar kuasamu. Hanya saja yang
membinasakan ummat sebelum kamu karena banyak pertanyaan mereka dan tidak
mengikuti perintah Nabi-nabi mereka. (HR. Muslim No. 1309)
Rasulullah saw bersabda : "Akan ditimpakan kehinaan dan kerendahan bagi
orang-orang yang menyalahi perintahku". (HR Ahmad dengan sanad hasan).

Penulis : Ustadz Abdurrahman Lombok.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas kunjungannya.
Semoga artikel yang ada bermanfaat.
Saran dan kritik dari anda sangat kami harapkan.